teks berjalan

" TERIMAKASIH ANDA SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG SAYA "

Kamis, 23 Desember 2010

500 th pun tak cukup (renungan)


Merenung Sejenak dengan hati merendah, fikiran tenang, dan bayangkan diri ini untuk massa depan....,

Bismillaa hirrahmaa nirrahiim

Didalam sebuah riwayat dikisahkan ada seorang ahli ibadah yang seluruh kehidupannya hanya diisi dengan aktifitas ibadah kepada Allah. Ia hidup dipuncak gunung di sebuah pulau yang dikelilingi oleh samudra laut yang luas. Di kaki gunung tersebut ada sebuah mata air dan sebuah pohon delima yang atas izin Allah mata air itu selalu memancar serta pohon delima itu selalu berbuah tanpa pernah mengenal musim.

Disaat ia lapar, haus dan ingin berwudhu, iapun turun gunung untuk kemudian minum, berwudhu dan memakan buah yang tersedia guna melanjutkan ibadahnya kepada Allah. Didalam doanya, dia memohon kepada Allah agar dia dimatikan dalam keadaan bersujud, serta memohon agar tubuhnya tidak dirusak oleh ulat hingga hari kiamat tiba. Setelah 500 tahun kehidupannya, tibalah waktu kematiannya, doanya dikabulkan oleh Allah, jasadnya tetap utuh, hingga waktu Perhitungan tiba, ia pun dibangkitkan. Ketika tiba saat pertanggungjwaban si ahli ibadah itu, Allah berfirman kepada malaikatNya 'Masukkan hambaKu itu kedalam surga Ku, karena rahmatKu', mendengar hal itu, si abid pun bertanya-tanya, karena ia merasa telah beribadah kepada Allah selama 500 tahun, kenapa dia dimasukkan ke dalam surga tidak dengan amalnya? kemudian si abid berujar kepada Allah 'kenapa aku tidak masuk ke surga dengan amalku ya Rabb ku?', Allah tetap berfirman seperti diatas, dan si abid pun bertanya hal yang sama hingga kali ketiga, kemudian Allah berfirman kepada malaikat 'Hitung amal nya!', ternyata timbangan amal si abid tidak mampu menandingi nikmat mata yang telah Allah amanahkan kepada nya, Allah pun berfirman kepada malaikat 'Masukkanlah hamba Ku itu kedalam neraka karena amalnya', si abid pun segera menyadari kesalahannya, dimana ibadah yang ia lakukan selama 500 tahun ternyata tak mampu membalas nikmat mata yang telah Allah amanahkan kepadanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah dengan sebaris doa 'Ya Allah masukkanlah aku kedalam SurgaMu dengan rahmatMu'

Subhanallah..bagaimana dengan kita?
sering kali kita merasa telah banyak berbuat baik karena Allah, sehingga kita merasa bahwa perbuatan baik yang telah kita lakukan itu akan menjadikan kita seorang ahli surga, padahal kenyataannya, untuk sebuah nikmat mata saja, seorang manusia tidak akan sanggup membalasnya meskipun telah beribadah selama 500 tahun secara terus menerus.

Bagaimana dengan kita yang dengan sengaja melakukan kemaksiatan tanpa mau memperhitungkan waktu yang telah Allah jatahkan untuk kita. Padahal untuk 1 menit yang akan datang pun kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau malah bertemu dengan maut, renungkanlah..kenapa kita tidak mulai menjaga nikmat yang telah Allah amanahkan kepada kita dengan penuh kehati2an, kenapa kita tidak mulai menjaga pandangan mata kita? kenapa kita tidak mulai menjaga tangan dan kaki kita? kenapa kita tidak mulai menjaga mulut kita dari mengumpat, berghibah, merayu dll? kenapa kita tidak mulai menjaga pergaulan kita dengan lawan jenis? kenapa kita tidak mulai menutupi aurat dan aib kita? kenapa kita tidak mulai dengan mengajak orang untuk mengenal Allah, minimal mulai untuk tidak mengajak orang untuk melakukan maksiat? dan 'kenapa-kenapa yang lain' yang bisa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, yang ke semuanya tak lain dan tak bukan agar kita kemudian mampu memohon dihari Perhitungan nanti dengan sebuah permohonan 'Ya Allah, Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang, masukkanlah aku kedalam surgaMu dengan RahmatMu'

Dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: 'Engkau pun tidak, wahai Rasulullah?' Rasulullah saw. menjawab: 'Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar' (HR Abu Hurairah RA)

Semoga Allah menjadikan kita pribadi-pribadi yang tidak menyia-nyiakan taubat. amin Allahumma amin.

10 Tips Berkomunikasi di Saat Sulit


Sahabatku yang baik,........?


Kemampuan berkomunikasi yang efektif adalah salah satu aspek esensial dari kualitas kepemimpinan seseorang. Pimpinan baik tidak hanya berperan sebagai penghubung, tetapi juga dapat memberikan pernyataan visi yang mampu menginspirasikan orang lain. Pemimpin harus bersikap terbuka dan jujur tentang apa yang mereka lakukan dan pikirkan.

Memimpin orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Di masa krisis, tantangan bagi para pemimpin justru jauh lebih besar dan sulit. Komunikasi yang efektif dibangun atas dasar kepercayaan, visi, harapan, harga diri, dan keyakinan.

Berikut 10 tips komunikasi yang efektif bagi seorang pemimpin, khususnya di saat sulit.

1. Berpikir sebelum berbicara.
Di masa sulit, kebanyakan orang tidak hanya berpegang pada kata-kata pemimpinnya, tetapi juga berusaha mencari apa yang tidak dikatakan oleh pimpinan mereka. Seorang pemimpin perlu “menjahit” pesan/isu yang ada sehingga ia dapat memperoleh gambaran penuh tentang informasi yang diberikan oleh para audiens.

2. Tetap fokus dengan mengkombinasikan gambaran jangka panjang dan jangka pendek.
Pemimpin harus efektif dalam memilah isu-isu yang muncul di lingkungan sekelilingnya.

3. Kendalikan emosi secara efektif.
Pemimpin mesti bersikap fleksibel, mereka tidak boleh menunjukkan rasa frustasi atau amarah sesukanya. Jika itu terjadi, maka mereka akan menjadi bagian dari masalah.

4. Selalu berharap dengan melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan visi dan misi.
Pemimpin harus mampu menghubungkan pesan mereka dengan misi atau visi . Pemimpin sebaiknya memberikan rencana yang jelas tentang usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan dan mereka sebaiknya menawarkan pendekatan yang positif saat bawahan dihadapkan dengan berita buruk.

5. Kenali kualitas isu-isu yang baik.
Ketika berita buruk harus disampaikan, bawahan biasanya cenderung lebih menghargai situasi informal daripada pertemuan formal.

6. Jawablah pertanyaan bawahan dengan jelas.
Gunakan bahasa yang simpel dan jawablah isu-isu yang muncul dan jika tidak dapat memahami pertanyaan yang diutarakan, akuilah!

7. Tunjukkan kesuksesan bersama di saat yang tepat.
Pemimpin tidak hanya perlu mengumumkan keberhasilan, tetapi juga menghubungkan kesuksesan itu dengan tujuan atau visi.

8. Ikuti komitmen.
Satu cara esensial untuk membangun dan mempercepat kepercayaan adalah dengan selalu mematuhi komitmen yang telah dibuat bersama, khususnya ketika hal tersebut berkaitan dengan visi dan misi.

9. Jadilah pendengar yang baik.
Dengar apa yang mereka katakan, berikan perhatian terhadap apa yang sedang diutarakan, baik yang diungkapkan secara lisan melalui bahasa tubuh ataupun secara tulisan. Semua ini adalah tentang apa yang dipikirkan bawahan, tentang bagaimana mereka bertindak dan apa yang tidak dapat mereka ungkapkan secara verbal.

10 Hindari surprise.
Selalu menginformasikan berita terbaru pada bawahan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sebelum hal itu menjadi masalah.

Makna Syahadatain



Assalmualikum wm wb

Kalimah syahadatain adalah kalimah yang tidak asing lagi bagi umat Islam. Kita senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan. Kalimah syahadatain sering diucapkan oleh umat Islam dalam pelbagai keadaan. Sememangnya kita menghafal kalimah syahadah dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun demikian sejauh manakah berkesan kalimah syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ummat Islam?

Soalan tersebut perlu dijawab dengan realiti yang ada. Tingkah laku ummat Islam yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup Barat yang memberi gambaran bahwa syahadah tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara-perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetian dan taat bukan kepada Islam, dan mengingkari rezki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada dirinya. Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadah yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya di bawa oleh syahadah tersebut.

Kalimah syahadah merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam. Tanpa syahadah maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitupun dengan rukun iman. Tegaknya syahadah dalam kehidupan seorang individu maka akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita. Dengan syahadah maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Menegakkan Islam maka mesti menegakkan rukun Islam terlebih dahulu, dan untuk tegaknya rukun Islam maka mesti tegak syahadah terlebih dahulu. Rasulullah SAW mengisyaratkan bahawa: Islam itu bagaikan sebuah bangunan. Untuk berdirinya bangunan Islam itu harus ditopang oleh 5 (lima) tiang pokok iaitu syahadatain, shalat, saum, zakat dan haji ke baitul haram. Dalam hadits yang lain: shalat sebagai salah satu rukun Islam merupakan tiangnya ad dien.

Di kalangan masyarakat Arab di zaman Nabi SAW, mereka memahami betul makna dari syahadatain ini, terbukti dalam suatu peristiwa di mana Nabi SAW mengumpulkan ketua-ketua Quraiys dari kalangan Bani Hasyim, Nabi SAW bersabda: Wahai saudara-saudara, mahukah kalian aku beri satu kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab. Kemudian Abu Jahal terus menjawab: Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan padaku. Kemudian Nabi SAW bersabda: Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah. Abu Jahal pun terus jawab: Kalau itu yang kau mau, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.

Penolakan Abu Jahal kepada kalimah ini, bukan kerana dia tidak faham akan makna dari kalimat itu, tetapi justeru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat dan patuh kepada Allah SWT sahaja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyaliti dari kaum dan bangsanya. Penerimaan syahadah bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya. Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadah.

Sebenarnya apabila mereka memahami bahawa loyaliti kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan kepada diri kita. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim. Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi di antaranya ialah ahli hukum (Abu Amr). Setiap individu yang bersyahadah, maka ia menjadi khalifatullah fil Ardhi.

Kalimah syahadah mesti difahami dengan benar, kerana di dalamnya terdapat makna yang sangat tinggi. Dengan syahadah maka kehidupan kita akan dijamin bahagia di dunia ataupun di akhirat. Syahadah sebagai kunci dan tiang daripada dien. Oleh itu, marilah kita bersama memahami syahadatain ini.


Al Wala Wal Bara'

Assalamualikum wm wb

Loyalitas Dan Anti Loyalitas

Sinopsis

Kalimat laa ilaha illa lLah terdiri dari 3 jenis huruf (alif, lam dan ha) serta 4 kata (Laa, ilah, illa, Allah) tetapi mengandung pengertian yang mencakup seluruh ajaran Islam. Keberadaan kata ini adalah Wala terhadap Allah dan Bara terhadap selain Allah. bagi muslim sikap ini merupakan sikap hidup yang inti dan warisan para nabi. Penyimpangan dari sikap ini tergolong dosa besar yang tidak diampuni (syirik). Dengan sikap Wala dan Bara seorang mu'min akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah di setiap perbuatannya. Untuk memahami wala dan bara ini kita perlu mengkaji unsur-unsur kalimatnya, seperti la, ilaha, illa dan sebagainya. Kalimah Muhammad Rasulullah merupakan bahagian kedua dari syahdatain. Di dalamnya terkandung suatu pengakuan tentang kerasulan Muhammad SAW. Ertinya di dalam rangka mengamalkan Wala dan Bara yang terkandung di dalam Laa ilaha illa Llah maka mesti mengikuti petunjuk dan jejak langkah Muhammad SAW. Beliau mendapatkan pengesahan Ilahi untuk menunjukkan kebenaran dan melaksanakannya. Maka beliau merupakan teladan pelaksanaan Wala dan Bara.

Hasyiah

Laa ilaha illa Llah

1. Laa (tidak ada - penolakan) Kata penolakan yang mengandungi pengertian menolak semua unsur yang ada di belakang kata tersebut

2. Ilaha (sembahan - yang ditolak) Sembahan iaitu kata yang ditolak oleh laa tadi, iaitu segala bentuk sembahan yang bathil. Dua kata ini mengandungi pengertian bara (berlepas diri)

3. Ila (kecuali - peneguhan) Kata pengecualian yang bererti meneguhkan dan menguatkan kata di belakangnya sebagai satu-satunya yang tidak ditolak

4. Allah (yang diteguhkan atau yang dikecualikan) Kata yang dikecualikan oleh illa. Lafzul jalalah (Allah) sebagai yang dikecualikan.

Dalil

· 16:36, inti dakwah para Nabi adalah mengingkari sembahan selain Allah dan hanya menerima Allah sahaja sebagai satu-satunya sembahan.

· 4:48, 4:116, bahaya menyimpang dari Tauhid. Syirik merupakan dosa yang tidak diampun.

· 47:19, dosa-dosa manusia diakibatkan kelalaian memahami makna tauhid

· 7:59, 65, 73, beberapa contoh dakwah para nabi yang memerintahkan pengabdian kepada Allah dan menolak ilah-ilah yang lain

· Hadits. Ikatan yang paling kuat daripada iman adalah mencintai kerana Allah dan membenci kerana Allah

· Hadits. Barangsiapa yang mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah, memberi kerana Allah dan melarang kerana Allah, maka ia telah mencapai kesempurnaan iman.

Bara (pembebasan)

Merupakan hasil kalimat laa ilaha yang ertinya membebaskan diri daripada segala bentuk sembahan. Pembebasan ini bererti: mengingkari, memisahkan diri, membenci, memusuhi dan memerangi. Keempat perkara ini ditunjukkan pada segala ilah selain Allah samada berupa sistem, konsep mahupun pelaksana.

Dalil

· 60:4, contoh sikap bara yang diperlihatkan Nabi Ibrahim AS dan pengikutnya terhadap kaumnya. Mengandung unsur mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memusuhi.

· 9:1, sikap bara bererti melepaskan diri seperti yang dilakukan oleh Rasul terhadap orang-orang kafir dan musyrik.

· 47:7, sikap bara adalah membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.

· 58:22, sikap bara dapat diertikan juga memerangi dan memusuhi meskipun terhadap familinya. Contohnya Abu Ubaidah membunuh ayahnya. Umar bin Khatab membunuh bapa saudaranya, sedangkan Abu Bakar hampir membunuh putranya yang masih musyrik. Semua ini berlangsung di medan perang.

· 26:77, Nabi Ibrahim menyatakan permusuhan terhadap berhala-berhala sembahan kaumnya.

Hadam (penghancuran)

Sikap bara dengan segala akibatnya melahirkan upaya menghancurkan segala bentuk pengabdian terhadap tandingan-tandingan mahupun sekutu-sekutu selain Allah, apakah terhadap diri, keluarga mahupun masyarakat.

Dalil

· 21:57-58, Nabi Ibrahim berupaya menghancurkan berhala-berhala yang membodohi masyarakatnya pada masa itu. Cara ini sesuai pada masa itu tetapi pada masa Rasulullah, Rasul SAW menghancurkan akidah berhala dan fikrah yang menyimpang terlebih dahulu. Setelah fathu Mekkah, kemudian 360 berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan oleh Rasul.

Al Wala (loyaliti)

Kalimat Illa-lLah bererti pengukuhan terhadap wilayatulLlah (kepemimpinan Allah). Ertinya: selalu mentaati, selalu mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, dan membela, mendukung, dan menolong. Semua ini ditujukan kepada Allah dan segala yang diizinkan Allah seperti Rasul dan orang yang beriman.

Dalil

· 5:7, 2:285, Iman terhadap kalimat suci ini bererti bersedia mendengar dan taat.

· 10:61,62, jaminan Allah terhadap yang menjadi wali (kekasih) Allah kerana selalu dekat kepadaNya.

· 2:165, wala kepada Allah menjadikan Allah sangat dicintai, lihat 9:24

· 61:14, sebagai bukti dari wala adalah selalu siap mendukung atau menolong dien Allah.

Al Bina (membangun)

Sikap wala beserta segala akibatnya merupakan sikap mukmin membangun hubungan yang kuat dengan Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Juga bererti membangun sistem dan aktiviti Islam yang menyeluruh pada diri, keluarga, mahupun masyarakat.

Dalil

· 22:41, ciri mukmin adalah sentiasa menegakkan agama Allah.

· 24:55, posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun dienuLlah.

· 22:78, jihad di jalan Allah dengan sebenarnya jihad adalah upaya yang tepat membangun dienulLah.

Ikhlas

Keikhlasan iaitu pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap bara terhadap selain Allah dan memberikan wala sepenuhnya kepada Allah.

Dalil

· 98:5, mukmin diperintah berlaku ikhlas dalam melakukan ibadah.

· 39:11,14, sikap ikhlas adalah inti ajaran Islam dan pengertian dari La ilaha illalLah.

Muhammad Rasulullah

Konsep Wala dan Bara ditentukan dalam bentuk :

1. Allah sebagai sumber

Allah sebagai sumber wala, dimana loyaliti mutlak hanya milik Allah dan loyaliti lainnya mesti dengan izin Allah.

2. Rasul sebagai cara (kayfiyat)

Pelaksanaan wala terhadap Allah dan Bara kepada selain Allah mengikuti cara Rasul

3. Mukmin sebagai pelaksana

Pelaksana Wala dan Bara adalah orang mukmin yang telah diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.

· Dalam pelaksanaan Bara, rasululLah memisahkan manusia atas muslim dan kafir, HizbulLah dengan Hizbus Syaithan. Orang-orang mukmin adalah mereka yang mengimani Laa ilaha illalLah dan Muhammad RasuluLlah sedangkan orang kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari dua kalimah syahadat atau kedua-duanya.

· Orang-orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam dengan dakwah secara hikmah dan boleh diperangi sampai mereka mengakui ketinggian kalimah Allah.

· Dengan demikian pelaksanaan Wala dan Bara telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa yang telah dicontohkan RasuluLlah SAW.

Dalil

· 5:55-56, Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah wali orang yang beriman.

· 4:59, ketaatan diberikan hanya kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri dari kalangan mukmin.

· 5:56, orang-orang yang memberikan wala kepada Allah, Rasul dan orang-orang mukmin adalah Hizbullah (golongan Allah), lihat pula 58:22. Selain golongan ini adalah Hibus Syaithan.

· 60:7-9, kebolehan bergaul dengan orang kafir dengan batas-batas tertentu. Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya sebelum mendapat izin dari RasuluLlah, lihat pula 31:15.

Ringkasan Dalil

· Laa ilaha illa-Llah: (Laa) adalah perkataan penolakan, (ilaha) - yang ditolak

· Al-Barro' (melepaskan diri) (60:4, 7:59,65,73,85):

-Mengingkari
-Membenci
-Memusuhi
-Memutus hubungan
-Menghancurkan

· Illa (melainkan) adalah ungkapan pengukuhan (isbat)

· Allah adalah yang dikukuhkan (diisbatkan)

· Al-Wala'/loyaliti (7:196, 5:55, 4:59, 5:7, 47:7, 2:186, 2:165, 3:31) adalah:

-Taat
-Membela
-Membangun
-Mendekati
-Mencintai

· Menghancurkan dan membangun adalah makna ikhlas (98:5, 39:11,14)

· Muhammadu Rasulullah - Konsep Al-Wala' dan Al Barro':

-Allah adalah sumber nilainya (2:147, 7:2)
-Rasul adalah contoh pelaksanaannya (33:21, 59:7)
-Orang mukmin adalah pelaksananya (33:36, 35:32)

· Kaifiat "Membina" dan "Menghancurkan" adalah dengan "ittiba'" (3:31)

Minggu, 19 Desember 2010

BERCERMIN DIRI

Sahabatku,

Dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.

Hanya saja, jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.

Sahabatku,

Mulailah amati wajah kita seraya bertanya, "Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"

Lalu tatap mata kita, seraya bertanya, "Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"

Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah, 'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"

"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah mengampunimu?"

Sahabatku,

Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti, membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!"

"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun dengan derita tiada akhir?"

"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"

"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"

Sahabatku,

Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"

"Apakah engkau ini shaleh atau shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu, ...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer!"

Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi. Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!

Sahabat-sahabat sekalian,

Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***

(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)